Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya Keterampilan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sarung Tenun Kresesek, Sarung Tenun Khas Negeri Samawa

Sumbawa memiliki sarung tenun khas yang dibuat dengan tangan. Sarung tenun kre'sesek namanya. Sarung tenun yang dibuat dari berbagai jenis benang ini sering digunakan di kepala saat dilakukan upacara adat Sumbawa.

Sarung tenun kre'sesek merupakan hasil buatan tangan masyarakat di beberapa desa di Sumbawa, seperti Desa Moyo, Desa Lengas, dan Desa Poto. Biasanya, untuk membuat sehelai sarung tenun, diperlukan waktu sekitar 1 bulan. Hal ini disebabkan, selain menjadi pembuat sarung tenun, masyarakat di sana juga bermata pencarian sebagai petani.  

Aneka jenis binatang dan tanaman menjadi motif yang biasa digunakan pada sarung tenun masyarakat berjuluk negeri Samawa. Salah satu motif binatang yang sering digunakan adalah rusa. 

Bahan utama untuk membuat sarung kre'sesek ini adalah benang biasa dan benang kembaya (benang khusus yang digunakan untuk motif). Alat-alat yang digunakan untuk membuat sarung tenun kre'sesek ini juga masih sangat tradisional seperti tolang guren, golang kecil, sisir, dan belida.  

Sarung tenun kre'sesek telah dikenal sejak zaman Kerajaan Sumbawa. Saat itu, salah satu ruangan Istana Dalam Loka menjadi tempat khusus pembuatan sarung tenun ini. 

Sarung tenun kre'sesek saat ini sudah menjadi salah satu ornamen pakaian adat Sumbawa. Banyak wisatawan yang sengaja berkunjung ke salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat hanya untuk mencari sarung tenun khas Sumbawa.






Keris, Karya Estetis Berdaya Magis

Keris merupakan salah satu karya seni dengan logam yang menjadi kekhasan budaya Jawa. Keris telah dikenal oleh peradaban nusantara sejak abad ke-9 masehi. Hingga saat ini, keris pun telah mengalami perkembangan yang luar biasa, baik dari segi bentuk maupun fungsionalitas. Penggunaan keris pun menyebar luas ke berbagai daerah di Indonesia bagian barat serta tengah, Malaysia, Thailand selatan, hingga ke Filipina.

Diduga, kemunculan keris dalam khazanah kebudayaan nusantara dipengaruhi peradaban Tionghoa dan India. Bentuk keris diduga merupakan pengembangan dari morfologi belati peninggalan kebudayaan Dongson di Vietnam selatan. Sedangkan, ritual penghormatan benda logam diduga berasal dari kebudayaan India kuno. Hal inilah yang membuat keris menjadi senjata yang memiliki nilai estetis sekaligus dipercaya memiliki daya magis.

Bentuk keris sebelum era Kerajaan Kediri-Singasari disebut dengan 'keris buda' atau disebut pula 'keris sombro'. Keris pada era ini dicirikan dengan bentuknya yang relatif primitif, bilah melebar, dan belum memiliki kelokan (luk). Keris pada era setelah berdirinya Kerajaan Kediri-Singasari (keris modern) mengalami banyak perkembangan dari sisi estetika morfologi. Hal ini terlihat dengan munculnya lekukan, unsur ornamental (ricikan), dan pola pamor.

Keris modern umumnya dibuat dari campuran dua jenis bahan logam. Beberapa jenis bahan yang umum dibuat keris adalah besi, baja, dan pamor (logam nikel atau batu meteorit). Proses penyatuan dua jenis logam ini dilakukan dengan penempaan dan pelipatan secara berulang-ulang pada suhu tinggi. Untuk itu, logam yang masih berupa batangan ini terlebih dahulu dipanaskan pada suhu di atas 1.000 derajat celcius.

Nilai estetika dari suatu keris ditentukan dari seberapa banyak pengulangan proses pelipatan dan penempaannya (saton). Semakin banyak pelipatan yang dilakukan, akan semakin lembut corakpamor yang dihasilkan. Setelah proses pengulangan tersebut, batangan alloy (campuran logam) tersebut dipotong sama panjang dan disisipkan sebatang baja. Tiga lapisan logam ini kembali ditempa hingga menjadi keris mentah.

Keris mentah ini kemudian dibentuk lebih lanjut dengan cara dikikir dan diberikan sejenis zat arsenik (warangan) untuk memperkuat corak pamor. Pada tahap inilah, ornamen ukiran (ricikan) dibuat sebagai penambah estetika sekaligus pesan pemaknaan tertentu. Setelah tercapai bentuk yang sempurna, keris diberikan gaman (gagang) dan warangka (sarung) sehingga menjadi keris yang sempurna. Untuk mempertahankan keindahannya, keris diberikan minyak pewangi danwarangan secara rutin.








Benda Seni yang Bernilai Religi

Arca merupakan seni patung yang berfungsi sebagai media pemujaan. Berbeda dengan patung pada umumnya yang berfungsi sebagai hiburan bersifat profran, arca memiliki nilai-nilai religius karena merupakan media pemujaan dalam perwujudan para dewa atau Tuhan. Dalam sistem religi, terdapat tiga jenis arca, yaitu arca Hindu, arca Buddha, dan arca Katolik.”

Dalam kepercayaan Buddha arca disebut juga "Murti", perwujudan sosok yang sudah dianggap mempunyai ciri-ciri ketuhanan yang dianggap suci. Pada naskah “Pancaratra”,terdapat keterangan pemujaan terhadap Murti merupakan kewajiban terutama pada masa Dwapara Yuga. Arca yang dipuja pada kepercayaan Buddha yaitu arca berwujud Buddha Gautama yang biasa disebut dengan Budharupa.

Murti juga merupakan sebutan arca pada kepercayaan Hindu. Berbeda dengan Buddha, dalam Hindu, Murti layak dipuja karena di dalamnya bersemayam roh kudus. Murti juga dianggap sebagai tempat memberi sesaji, memberikan persembahan, dan memohon kepada Tuhan. Dalam kepercayaan Hindu, terdapat tiga jenis arca, yaitu arca Istadewata, arca Kuladewata, dan arca Garbadewata.

Arca Istadewata yaitu arca yang dimiliki secara pribadi sehingga bisa dibawa ke mana saja. Arca Kuladewata adalah arca yang dimiliki oleh keluarga, biasanya arca jenis ini diletakkan di depan rumah. Berbeda dengan arca Garbadewata yang dimiliki oleh orang banyak, arca ini biasanya berukuran lebih besar dari kedua jenis arca sebelumnya dan diletakkan di tempat ibadah umat Hindu (Pura).

Dalam kepercayaan Hindu-Buddha, terdapat berbagai tokoh atau dewa yang diwujudkan dalam sebuah arca. Dewa-dewa tersebut antara lain Whisnu, Brahma, Shiwa, Agastya, Ganesha, Durga, Laksmi, Saraswati. Sementara dalam kepercayaan Katholik, arca diwujudkan dalam bentuk Yesus ataupun Bunda Maria.

Arca lebih dari sekadar benda seni. Selain detail yang menawan, oleh sebagian orang diyakini ada ruh kudus yang bersemayam di dalam arca. Selain itu, arca juga melambangkan adanya kekayaan budaya nusantara yang beragam yang belum tentu dimiliki oleh bangsa lain. 

Kini koleksi arca dapat kita jumpai tidak hanya dalam tempat peribadatan saja tapi juga di museum-museum yang ada di berbagai daerah di Indonesia.










Kain Gringsing : Kain Tradisional Suku Bali Aga

Terletak di lokasi yang tak jauh dari kawasan wisata Candidasa, Kabupaten Karangasem, Bali, Tenganan hiduplah sebuah suku bernama Bali Aga. Konon, suku ini merupakan penduduk Bali asli.

Hingga saat ini masyarakat Bali Aga masih mempertahankan polah hidup tradisional ala nenek moyang. Maka tak mengherankan jika masyarakat yang hidup disini sangat kokoh dan tak terpengaruh budaya luar.

Jika di Flores ada kain tenun ikat, maka di Bali ada warisan budaya asli Bali Aga yang disebut dengan kain tenun Gringsing.

Kain tradisional ini selain dibuat dalam jangka waktu yang lumayan cukup lama, juga menggunakan pewarnaan yang berasal dari bahan-bahan tradisional alami.

Kain hasil tenunan ini di dunia hanya terdapat di 3 negara dan salah satunya di Bali. Teknik pembuatan kain Gringsing dinamakan dobel ikat. Kain ini biasanya dipakai di upacara adat dan kini mulai hadir di beberapa pentas peragaan busana.